Minggu, 14 Agustus 2011

KESEMPURNAAN SANG SAHABAT (Story 1)


Suatu hari disaat dia sedang duduk di sebuah taman. Diam-diam viona memperhatikan gerak-geriknya, gerak gerik cowok yang disukainya. Nathan sudah lama duduk di taman itu, ia sepertinya serius sekali membaca sebuah novel. Dan pastinya itu adalah novel sherlock holmes. Viona memang sudah lama memendam perasaan pada nathan, namun ia tak akan pernah mengakuinya walaupun kiamat terjadi. Ia masih berpikiran kalau seorang cewek yang menyatakan cinta, itu masih tidak lazim. Meskipun di luar sana banyak yang berteriak tentang emansipasi wanita, namun dalam hati kecil viona ia tetaplah seorang perempuan yang akan tidak akan segan meminta bantuan orang lain bila sedang kesusahan, ia tidak akan malu menangis, yang memiliki hati yang peka dan penyayang. Viona melihat nathan dari kejauhan, sebenarnya untuk melakukan hal itu tidak perlu jauh-jauh pergi ke taman. Sebenarnya viona bisa bertemu nathan setiap hari di sekolah. Ia bisa melihat ketika nathan bermain sepak bola di lapangan sekolah, ia bisa melihat nathan saat di kantin, dan ia bisa melihat nathan lebih dekat saat ada perkumpulan osis. Namun, entah kenapa viona merasa melihat nathan seperti memakan cokelat. Mungkin semacam addicted
Satu jam berlalu, nathan sepertinya selesai membaca buku. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan membelakangi viona. Dan itu lah akhir dari pengamatannya hari ini. Ini adalah hari minggu, dan pada hari ini rutinitas viona tetap sama. Pergi ke taman dengan anjingnya. Meskipun di siang bolong, ia duduk dibawah pohon beringin yang sangat rindang. Ia menikmati aktivitas itu, karena selain mendapat ketenangan ia juga bisa melihat nathan. Viona tahu kalau nathan selalu pergi ke taman untuk membaca buku dari sahabatnya, amanda.
“perry, nathan sudah pergi. Sekarang kita pulang ke rumah.” Viona menuntun anjingnya pulang ke rumah. Viona sangat menyayangi perry, ia merasa kalau perry adalah bagian dari dirinya. Perry adalah hadiah ulang tahun viona yang ke 10 dari almarhum neneknya. Saat itu usia perry baru satu tahun. Viona merawat perry dengan baik hingga kini. Siang itu cuaca sangat panas, namun viona berjalan dibawah pohon-pohon rindang. Dan itu sangat menyenangkan bagi viona dan perry.
Jam pelajaran pertama besok adalah fisika, viona berharap gurunya kali ini tidak akan memberikan kuis dadakan. Karena minggu kemarin, viona nyaris kelabakan dengan kuis dadakan. Bukannya ia tidak menyukai fisika, ia suka hanya saja gurunya yang membuat viona tidak bersemangat. Viona senang sekali bisa kembali sekolah, ia senang karena bisa melihat nathan lagi, yaa meskipun hal ini sering dilakukannya ia tak akan pernah bosan. Sebaik-baiknya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Amanda, sering memergoki aku menatap nathan. Ia bisa melihat tatapan orang yag sedang terpesona. Saat aku menyadari amanda melihatku, aku kembali pada aktivitasku.
“kenapa sih vi, kamu gak jujur sama aku. Aku tahu kamu suka sama nathan? Kamu gak usah pura-pura lagi, semuanya akan lebih baik kalau kamu jujur”
“hmm, apa aku salah man, maksudku apa aku salah kalau aku menyimpan rahasia aku sendiri tanpa memberi tahu orang lain”
“kenapa kamu bilang seperti itu, apa kamu menyimpan sebuah rahasia?”
“bukan hanya sebuah, tapi banyak”
Hubungan viona dan amanda memang tidak seperti dulu lagi. Mereka sudah satu tahun bersahabat. Dan kini masing-masing tahu karakter yang lainnya. Masalah ini dimulai saat amanda mengenalkan viona pada nathan, saat itu amanda mengatakan kalau nathan adalah teman baiknya saat SD. Karena orang tua nathan bekerja di lombok, akhirnya mereka berpisah. Dan mereka baru bertemu lagi kini saat SMA. Viona mulai merasakan ada getaran cinta pada nathan saat ia bergabung dengan osis. Saat itu nathan dicalonkan menjadi ketua osis, dan sikapnya yang down to earth membuat siapapun mau berteman dengan nathan apalagi cewek-cewek.  Nathan sangat baik terhadap viona, dan mungkin bisa dibilang perhatian. Meskipun saat itu viona belum berani mengira kalau nathan suka padanya. Viona ingin sekali memberi surprise pada amanda, kalau ia dan nathan sudah jadian. Maklum saja, karena waktu itu amanda seringkali menggoda nathan yang diam-diam suka pada viona. Entah benar atau tidak, viona sangat menikmati saat-saat itu. Saat ia bisa tertawa bersama dengan amanda. Namun suatu hal terjadi, di suatu malam yang sepi. Saat itu viona sedang mengerjakan tugas makalah bahasa inggrisnya. Tiba-tiba amanda menelpon.
“vi, aku punya kabar yang sulit untuk dipercaya.., nathan nembak aku”
“apaa..”
Viona terdiam, amanda menceritakan semuanya dengan semangat. Ia menceritakan semuanya dengan detail. Nathan mengajaknya ke sebuah toko buku. Amanda sudah gak aneh kalau nathan ingin mencari novel terbaru sherlock holmes. Saat itu, nathan meminta amanda untuk mencarikan sebuah novel romantis. Amanda heran, tidak biasanya nathan membaca novel romantis. Setelah beberapa jam berkutat di toko buku, akhirnya amanda menemukan dua novel yang menurutnya romantis. Setelah itu mereka pergi ke toko kaset. Nathan bilang ia ingin membeli sebuah cd. Setelah itu mereka pergi makan di sebuah kafe. Band yang ada di kafe tersebut menyanyikan lagu romantis. Dan semuanya adalah lagu ada band yang paling disukai amanda. Secara mengejutkan penyanyi kafe itu bilang kalau lagu terakhir yang dinyanyikannya spesial diberikan pada seorang wanita bernama amanda. Saat itu amanda merasa aneh, meskipun ia tidak curiga pada nathan. Ia merasa ada wanita lain yang bernama amanda di kafe ini. Dan terakhir, nathan menghampiri penyanyi kafe itu dan berterima kasih. Ia mengumumkan kalau lagu itu diberikannya pada amanda, dan nathan bilang I LOVE YOU, amanda putrianty. Rasanya seperti terbang melayang dia atas awan, amanda selalu bermimpi ada seorang cowok yang menyatakan cintanya dengan lagu romantis kesukaan amanda. Dan kini ia benar-benar tak percaya, nathan melakukannya untuk dirinya.
Tanpa disadari, air mata mengalir deras di pipi viona. Ia menutup telpon yang sejak tadi sudah diputus amanda. Viona tidak menyelesaikan tugas makalah bahasa inggrisnya, ia langsung merebahkan tubuhnya dan memeluk bonekanya sambil menangis. Keesokan harinya di sekolah, viona mendapat hukuman dari guru bahasa inggrisnya, ia tidak mengerjakan makalah bahasa inggris yang diberikan sejak seminggu lalu. Viona berlari mengelilingi lapangan sebanyak 5 kali. Ia berlari dengan air mata yang menetes, ia sedih bukan karena dihukum. Ia sedih melihat sahabatnya sedang asyik berduaan dengan cowok yang disukainya.
“vi, ini sudah kesekian kalinya aku nanya sama kamu. Kenapa sih aku ngerasa kalau hubungan kita itu gak sedekat dulu?”
“amanda, aku juga udah bilang berkali-kali sama kamu. Semuanya baik-baik aja gak ada yang berubah, itu cuma perasaan kamu aja”
“kamu menyembunyikan sesuatu sama aku”
“terserah kamu mau bilang apa”
Sepertinya jawaban ketus viona merubah segalanya. Setelah itu terjadi pertengkaran hebat antara viona dan amanda. Kedua sahabat itu tak saling berbicara agak lama mungkin sebulan. Namun amanda tidak tahan bila memiliki musuh di sekolah, ia tidak ingin masalah ini terus berlarut-larut. Suatu siang, sepulang sekolah amanda melihat viona masih mengerjakan tugasnya di kelas. segera saja ia menghampiri viona.
“sekarang aku tahu kamu siapa, kamu itu pengecut yang gak berguna, kamu penghianat, kamu ngehancurin hubungan aku dan nathan, dan kamu yang ngehancurin persahabatan kita”
Saat itu suara amanda terdengar bergetar, viona memandang semuanya dengan dingin. Ia membereskan semua bukunya, dan ingin segera beranjak dari kelas itu, namun amanda mencegahnya. Amanda memaksanya untuk bicara.
“kamu memang benar, aku memang pengecut. Asal kamu tahu, aku seperti ini gara-gara kamu. Kamu yang selalu terlihat sempurna. Kamu punya semuanya, kamu punya teman yang banyak, kamu punya orang tua yang sayang sama kamu, kamu punya keluarga yang baik, dan kamu merebut satu-satunya orang yang aku suka. Seharusnya, kalau kamu sahabat aku, kamu tahu kalau aku suka sama nathan. Dan kamu gak pernah menyadari itu, kamu baru tersadar saat ada gosip dari teman lain. Kamu selalu menceritakan semua kesempurnaan kamu, dan seharusnya kamu tahu kalau aku sangat berbeda dengan kamu. Aku gak punya banyak teman, aku gak punya orag tua yang sayang sama aku, dan aku gak punya keluarga sebaik kamu, seharusnya kamu sadar itu. Kamu menceritakan, kesempurnaan kamu sama orang yang tidak memiliki kesempurnaan, puass !!”
Perseteruan itu berakhir. Anak-anak lain yang menonton terdiam saat viona pergi berlinangan air mata. Begitu juga amanda yang membeku. Ia tak menyangka semua akan seperti ini. Itu adalah kata-kata terakhir viona. Setelah itu viona tak pernah terlihat lagi di sekolah. Dan setelah mencari tahu, guru kesiswaan bilang kalau viona itu keluar dari sekolah. Ia mengikuti pamannya untuk sekolah di New Zealand. Amanda berpikir, semua ini adalah pengalaman berharga yang tak akan pernah dilupakannya. Ia mulai membuka mata, sahabat adalah seseorang yang menerima ‘keanehan’ aku apa adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar