Minggu, 14 Agustus 2011

Pasir-pasir itu berubah menjadi mutiara (Part 2)

“Cherry, ayahmu sudah mendaftarkanmu di sekolah yang direkomendasikan oleh Pa Lilian. Beliau itu sahabat ayahmu, dan sudah tinggal d pulau ini 5 tahun yang lalu, jadi mulai besok kamu sudah bisa masuk sekolah”
“Waww, itu sepertinya terlalu cepat bu. Tapi tidak apalah aku juga tidak ingin berlama-lama libur “
Keesokan harinya ibu mengantarkanku ke sekolah baruku namanya SMU Phentagonian. Sekolah ini sungguh membuatku gugup. Ibu bilang ini adalah satu-satunya sekolah internasional di Pulau ini. Aku akan mendapat banyak pengalaman dibandingkan sekolahku dulu. Orang pertama yang kutemui adalah Bu Amanda, ia menerimaku dengan senang hati. Ia menyuruhku masuk ke kelas 2-2 karena kelas itu yang jumlah muridnya paling sedikit. Bu Amanda menjelaskan kalau sekolah ini adalah sekolah unggulan. Jumlah murid tiap kelas tidak lebih dari 35 orang, kelas yang kumasuki baru berjumlah 32 orang. Sekolah ini memiliki segudang prestasi dan aku bisa melihatnya di rumah kaca, sebutan untuk ruangan yang didalamnya terdapat berbagai macam prestasi siswa maupun prestasi sekolah. Selain itu murid-murid yang masuk kesini pun tidak sembarang murid. Ia harus memiliki prestasi minimal dalam 3 bidang. Tentu saja aku memiliki lebih dari itu. Kemudian Bu amanda menceritakan sejarah berdirinya sekolah ini panjang lebar. Setiap murid harus tahu sejarah sekolah, karena itu akan menimbulkan kecintaannya pada sekolah. Beberapa jam berlalu, terdengar lantunan musik beethoven menggema di seluruh sekolah. Bu amanda bilang itu adalah tanda jam belajar berakhir. Aku akan memulai pelajaranku keesokan harinya.
“Selamat pagi anak-anak, ini adalah teman baru kalian. Namanya Cherryl Putrianty Hermawan. Ia baru saja pindah dari SMU Pelita Harapan di Kota Bandung. Kalian boleh berkenalan lebih lanjut setelah jam pelajaran usai. Silahkan Cherryl, duduk di bangkumu”
Setelah mengucapkan terimakasih pada Bu Olivia, aku duduk di bangku paling belakang karena hanya itulah bangku yang tersedia. Aku memandangi setiap teman baruku, anehnya tidak ada satupun yang menoleh padaku. Apakah mungkin aku tidak menarik perhatian mereka atau bu olivia yang terlalu menguasai seluruh kelas ini. Suasananya sangat hening ketika pelajaran berlangsung, berbeda sekali dengan sekolahnya yang dulu yang seringkali terdengar beberapa murid mengobrol atau tertidur saat guru menerangkan pelajaran. Saat jam istirahat, keanehanku akan sekolah ini bertambah. Menurutku sangat tidak lazim, hampir seluruh siswa pergi ke perpustakaan saat jam istirahat. Memang ada beberapa yang pergi ke kantin, tapi mereka membawa buku, laptop. Mereka istirahat sambil tetap belajar. Luarr biasa. Tiba-tiba Bu amanda menghampiriku, ia menyuruhku untuk mengikutinya ke ruangannya.
“Bagaimana hari pertamamu masuk kelas, apakah menyenangkan?”
“Yaa ini sungguh luar biasa bu, aku tidak pernah menemui sekolah sehebat ini”
“Oia padahal kamu baru tahu sedikit. Ibu mengajakmu kesini agar kamu lebih mengenal sekolah ini. Setiap murid disini harus mengikuti ekstrakulikuler dan itu bebas..”
Bu amanda menyodorkanku selembar kertas. Seketika itu aku merasakan degup jantungku berhenti sesaat. Aku sangat terkejut, di kertas itu dituliskan bermacam-macam ekstrakulikuler yang ada di sekolah ini. Bisa kubilang jumlahnya puluhan, mungkin ratusan. Untuk ekstrakulikuler olahraga saja ada banyak sekali cabang diantaranya sepak bola, basket, voli, badminton, renang, catur, tenis dan yang membuatku ternganga adalah anggar. Percaya tidak percaya aku melihat olahraga beladiri anggar. Olahraga yang selalu membuatku kagum dan ingin menguasainya. Namun karena di sekolahku dulu tidak ada, jadi aku hanya melihat-lihat saja di TV ataupun majalah.
“Apakah olahraga ini benar-benar ada disini bu?”
“Tentu saja, olahraga mana yang kamu maksud?”
“Tenis dan anggar”
“Sepertinya ibu harus menunjukanmu sesuatu, ayoo ikut ibu jam istirahat masih 20 menit lagi”
Aku mengikuti kemana bu amanda mengajakku. Sepertinya ini berada di lantai bawah tanah. Tapi ini begitu luas, aku melihat beberapa pintu besar. Bu amanda kemudian menjelaskan kalau itu adalah berbagai ruangan olahraga. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat lapangan tenis dengan rumput hijaunya yang begitu menggoda, ruangan beladiri untuk anggar, lapangan basket indoor, lapangan badminton, kolam renang yang begitu luas. Aku juga melihat saat bu amanda menunjukan lapangan sepak bola yang dimiliki sekolah ini. Bu amanda juga bilang kalau itu baru untuk olahraga belum bidang yang lainnya. Aku seperti mimpi, dan mungkin ini benar-benar mimpi yang sangat tidak mungkin. Bagaimana bisa di Pulau yang baru ini, pulau yang mungkin tidak terkenal bisa ada sekolah seperti ini. Sekolah internasional di Jakarta pun mungkin tak kan sebagus ini. Tapi ini benar-benar amazing, incredible. Sulit kupercaya.
“Apakah kamu sudah tahu, ekstrakulikuler mana yang akan kamu ikuti?”
“Yaa tentu saja bu, semua ini sangat luarr biasa”
Aku memilih anggar dan tenis untuk ekstrakulikuler olahraga dan memilih piano untuk estrakulikuler musik. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuikuti, aku ingin mengikuti ekstrakulikuler sains, ekstrakuler bahasa, dan masih banyak yang lainnya. Tapi 3 ekstrakulikuler yang kupilih kali ini adalah yang sejak lama kuimpikan kecuali piano. Aku mengikuti ekstrakulikuler piano sejak di SMU ku dulu. Jam istirahat berakhir, bu olivia mengumumkan kalau besok ada ujian matematika dan kuis kimia. Jadi setiap murid harus belajar dengan baik. Aku merasa senang sekali mendengarnya, aku akan menunjukan kalau aku bisa membuat semua perhatian tertuju padaku sama seperti di smu ku yang dulu.
Hari sabtu ini adalah hari ekstrakulikuler, aku memasuki kelas anggarku untuk pertama kalinya. Setelah kemarin aku diajak bu amanda melihat-lihat ruangan ini, sekarang aku duduk bersama siswa lain mendengarkan arahan dari kakak pembimbing yang sudah senior dalam memainkan anggar.
“Saya dengar ada seorang murid baru masuk dalam kelompok kita, siapakah itu ayo segera maju kedepan dan perkenalka diri “ tiba-tiba kakak pembimbing itu melihat kearahku. Aku langsung kikuk mendengar itu, gugup dan mati gaya itu yang bisa kugambarkan.
“Ia, selamat pagi semuanya. Nama saya Cherryl saya pindahan dari SMU Pelita Harapan. Saya baru pertama kali masuk club anggar, karena di sekolah saya dulu tidak ada yang seperti ini. Tapi saya sangat mengagumi dan ingin bisa bermain anggar. Saya harap kakak-kakak dan teman-teman bisa membantu saya, terima kasih.”
“Yaa bagus sekali, setiap anggota anggar memang harus mencintai permainan ini..”
“Maaf saya datang terlambat..” tiba-tiba sebuah suara membuyarkan obrolan perkenalanku. Seorang laki-laki sebaya denganku datang tergesa-gesa. Dan yang membuatku kaget adalah ia seperti rafael, mungkin rafael, atau mungkin ini kembaran rafael. Seketika itu juga berbagai pikiran berkecamuk dalam otakku.
“Bagaimana kamu bisa terlambat?”
“Ada masalah dengan mobil saya, jadi saya naik bis kesini dan itu memerlukan waktu yang lama. Sekali lagi saya minta maaf kakak pembimbing”
“baiklah rafael, kali ini saya maafkan, silahkan ganti baju dan bersiap”
Kata-kata kakak pembimbing barusan membuatku semakin terkejut. Ia memanggil lelaki itu dengan nama rafael, berarti itu memang rafael. Tapi bagaimana bisa ia pindah juga kesekolah ini. Kenapa ia tidak tahu sama sekali. Aku seperti memutar-mutar otakku. Banyak sekali hal aneh yang kutemui di sekolah ini. Setelah perkenalanku, kakak pembimbing menyuruhku mengenakan kostum anggarku. Aku benar-benar tak percaya bisa memakai kostum anggar dan memagang floret sebuah pedang yang berbentuk langsing, lentur dan ringan ujungnya bulat, tumpul dan berpegas. Rasanya ingin berfoto dan mengabadikan semuanya.
“Baiklah kamu akan belajar dari awal, sebagai pemanasan rafael akan menjadi lawanmu”
“Ta..tapi, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan”
“Tenang saja ini bukan untuk kalah dan menang, ini untuk belajar”
Rafael yang sudah bersiap dengan floretnya membuatku gugup dan berkeringat. Aku memang pernah membaca bagaimana caranya memotong, menusuk, menangkis senjata lawan tapi aku tidak pernah mempraktekannya. Bisa terbaca oleh siapapun dalam sekejap rafael bisa mengalahkanku dengan mudah.
Akhirnya klub anggar itu berakhir, aku sangat lega. Tentu saja karena aku tak lagi mendengar orang-orang yang menertawakanku karena kekonyolanku bermain anggar. Tapi rafael begitu lihai memainkan floret, dalam beberapa detik ia bisa menusuk dan memotongku seperti bagian-bagian kecil sayuran. Aku keluar dari ruangan panas itu, dan mulai beranjak naik ke ruangan kelasku. Tapi aku melihat rafael sedang beristirahat dengan kostum anggar yang masih dipakainya. Aku bergegas menghampirinya.
“Rafael, kenapa kamu bisa disini? Kamu gak pernah bilang apapun kalau kamu mau pindah kesekolah ini juga?”
Dengan mengerutkan keningnya rafael berkata “Apa yang kamu bicarakan, maaf aku gak ngerti” sepertinya rafael hendak pergi dari tempat itu. Tapi dengan segera aku mencegahnya.
“Kamu rafael farand prasetya kan?”
“Aku gak kenal kamu, jadi kamu jangan sok kenal. Memangnya nama rafael di dunia ini Cuma satu”
Rafael meninggalkanku dengan cueknya. Sepertinya itu memang bukan rafael yang kukenal. Tapi wajahnya yang sangat mirip membuatku menyangka kalau itu rafael. Tapi sepertinya itu lain. Rafael ini begitu dingin dan cuek, dan dia sepertinya jago anggar bukan jago renang. Aku menghela nafas dan segera pergi ke kelas. Hari ini adalah pengumuman nilai ujian matematika kemarin. Aku sudah tak sabar ingin mengetahuinya, kemarin soal-soalnya tidak terlalu rumit hampir sama dengan ujian akhir semesterku di sekolah yang dulu. Apa mungkin aku akan mendapat nilai yang sama seperti dulu atau berbeda. Entahlah rasanya ingin waktu segera menjawabnya.
Di kelas teman-temanku sudah duduk dengan rapi, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang membaca, mengerjakan tugas, mempelajari grammar bahkan menghapal not-not piano yang baru saja didapatkannya. Jujur saja sampai hari ini aku belum memiliki teman dekat. Mereka semua sepertinya cuek, mungkin mereka belum menyadari kalau sebenarnya ada orang luar biasa di samping mereka. Aku hanya tersenyum memikirkan itu. Tak lama kemudian bu olivia masuk kelas sambi membawa selembar kertas yang berisikan nilai-nilai ujian para siswa. Bu olivia mulai menyebutkan satu persatu nama siswa sesuai absen, mungkin aku yang terakhir. Tak seorangpun yang berbicara selain bu olivia. Nyaris tak ada sorakan saat seorang siswa diumumkan mendapat nilai 100, padahal hampir semua yang disebutkan bu olivia mendapat nilai 100. Ada beberapa orang yang nilainya 95, mereka sepertinya terlihat agak sedih. Dan saat giliran namaku disebut, semua mata sontak melihat aku yang memang duduk paling belakang. Apakah aku tak salah dengar, bu olivia menyebutkan nilai 71 untuk hasil ujian matematikaku. Oke nilai itu mungkin tak terlalu buruk untukku, setidaknya nilai batas lulus UN tahun ini hanya 6.00. Jika aku mendapat nilai itu saat UN tentu saja aku akan lulus. Tapi yang menjadi masalah saat ini adalah ini bukan UN dan ini bukan sekolahku yang dulu.
Aku begitu terkejut mendengar semua siswa hampir mendapatkan nilai 100, hanya ada 2 orang yang mendapat nilai 95. Tetapi lebih terkejut lagi karena nilaiku 71. 71 adalah nilai terburuk di kelasku. Bahkan sangat berbeda jauh dengan 95, apalagi 100. Apa yang ada di benak mereka semua saat mendengar itu. Rasanya dunia ini hancur bagiku.
“Tuhan.. semua ini rasanya seperti mimpi. Aku datang ke pulau aneh ini, aku datang ke rumah baruku yang bergaya eropa klasik dengan perapian di ruang tengahnya dan lukisan monalisa di ruang tamu, aku datang ke sekolah luar biasa ini, murid-murid luar biasa. Dan semuanya begitu diluar dugaanku. Bagaimana mungkin aku bisa sampai disini? Bagaimana mungkin aku merasa menjadi sangat kecil disini. Yaa aku merasa aku tidak spesial disini, aku bukan siswa teladan disini, aku tidak menguasai apapun disini. Bahkan piano yang sangat kukuasai disekolahku yang dulu terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka yang bisa memainkan lebih daripada seorang beethoven. Mereka bisa memainkan piano layaknya pianis-pianis besar dunia. Mereka dengan mudah menghapal notasi mozart, frederic chopin dan yang lainnya. Aku sungguh merasa dunia ini bukan miliku lagi.”
Siang tadi, seusai bu olivia mengumumkan nilai ujian matematika temanku mengatakan hal yang sangat membuatku kesal. Namanya Lea Scoot, ia keturunan inggris-indonesia, ia mengatakan kalau aku tak boleh masuk kelas 2-2 bahkan aku tak layak masuk sekolah ini. Nilai ku begitu memalukan buat kelas bahkan untuk sekolah ini. Aku tidak tahu benar atau tidak apa yang diucapkan lea, ia bilang kalau aku satu-satunya murid yang mendapatkan nilai matematika terburuk sepanjang sejarah sekolah ini. Aku mencoba membela diri kalau nilaiku tidak seburuk yang dia bayangkan, aku pikir teman-temanku yang lain akan membelaku karena nilai 71 tidak terlalu buruk. Tapi kenyataannya mereka membenarkan apa yang diucapkan lea. Mereka bilang kalau di sekolah ini tak pernah ada yang mendapatkan nilai dibawah 85. Aku hanya bisa menangis, aku mencoba menenangkan diriku. Aku duduk dibawah pohon beringin yang sangat rindang. Aku hanya bisa menangis berharap semua ini bukan kenyataan. Saat itu aku merasa ada seseorang yang mendekatiku, saat melihat kebelakang kulihat rafael berjalan menuju kearahku. Secepat kilat aku menghapus air mataku.
“Aku sudah menyangka kamu akan mengalami semua ini. Semua ini memang pantas kamu dapatkan”
“Maksud kamu apa? Memangnya kenapa denganku, kamu tidak tahu apapun tentang aku”
“Tentu saja aku tahu, aku bisa mengetahui setiap orang yang memiliki setitik kesombongan dalam dirinya. Apalagi kamu yang memiliki sebongkah sifat arogan”
“Kamu benar-benar keterlaluan. Dulu kamu bilang aku yang sok kenal, sekarang aku akan bilang kalau kamu lebih sok kenal, sok tahu”
“Terserah kamu mau bilang apa, tapi semua ini adalah hukuman buat kamu”
Setelah itu rafael meninggalkanku sendiri. Ia berjalan dengan cueknya. Aku kembali menamgis. Meratapi kenapa semua berubah menjadi seperti ini. Aku mulai tidak betah berada disini. Meskipun sekolah ini begitu luar biasa, tapi aku tidak mungkin setiap hari hidup dengan teman-teman yang individualistis, cuek, sombong, dan tidak saling menolong ataupun membantu. Aku tidak mungkin bertahan di tempat seperti ini. Rasanya ingin pindah ke sekolah biasa saja dengan teman-teman yang baik, yang suka membantuku dan tidak merendahkan orang lain.
Aku melanjutkan tangisanku di kamar, aku mulai mencermati semuanya. Hujan turun dengan cukup deras. Aku bisa melihat bunga-bunga adenium itu bergerak-gerak. Mereka seperti bermain di tengah hujan. Aku mulai mengingat-ingat saat aku bermain dengan teman-temanku. Aku bermain air di tengah hujan sepulang sekolah dengan sandra, gina, marcella. Kami semua tertawa, tapi semua berakhir. Semua berakhir ketika gina melihat sebuah foto yang jatuh dari tas sandra. Ketika ia memungutnya, ia melihat foto sandra yang sedang berpelukan dengan haris, pacarnya. Persahabatan ku hancur saat itu. Gina pindah sekolah, marcella menjauhi sandra. Dan aku yang selalu tidak peduli mengacuhkan semuanya. Aku merasa itu bukan salahku, dan aku tak terlibat apapun didalamnya. Aku hanya bisa bergulat dengan impian-impian ku di masa depan. Aku ingin menjadi seorang pianis besar. Aku ingin bisa menjadi seorang profesor matematika. Aku tidak mempedulikan apa yang terjadi di sekelilingku. Aku bahkan tidak tahu kalau berita yang beredar tentang diriku itu benar adanya. Sebuah berita yang sebenarnya tak ingin aku ingat. Berita yang mengatakan bahwa aku seorang psychotic disorder. Kata-kata yang menurutku lebih buruk daripada seorang yang mementingkan diri sendiri, egois, angkuh, perfeksionis dan selalu meremehkan orang lain.
bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar