Hari ini adalah hari yang menyenangkan. Pasalnya ujian akhir semester ini ia lalui dengan sangat baik. Ia puas dengan hasil ujiannya. Nilai ujian matematika yang ia dapatkan nyaris sempurna 97. Nilai itu tertinggi diantara semua siswa kelas X di SMU Pelita Harapan. Cherryl ialah salah satu siswi teladan yang direkomendasikan oleh guru bidang kesiswaan untuk mewakili sekolahnya dalam ajang olimpiade matematika di Singapore tahun depan. Semua teman-temannya yang melihat papan pengumuman mengucapkan selamat padanya. Ia hanya tersenyum simpul, meskipun dalam hatinya ada sedikit ketidakpuasan. Ia berharap bisa mendapatkan nilai 100. Tapi dengan dinobatkannya ia sebagai siswa dengan nilai matematika tertinggi, itu sudah cukup membanggakan. Cherryl berjalan-jalan sambil tersenyum, alangkah indahnya kalau ia bisa menang di ajang olimpiade matematika itu. Ia berjalan melewati lapangan basket. Matahari sangat terik ketika itu, cherryl merasa heran di siang terik seperti ini masih ada orang yang mau main basket. Tapi ia tak peduli, mungkin mereka ingin berprestasi seperti dirinya. Cherryl begitu menikmati lamunannya sampai tiba-tiba sebuah bola basket melayang ke arah kepalanya.
Sepulang sekolah ayah dan ibunya sangat senang ketika mendengar cerita cherryl tentang prestasinya, ia juga meminta ijin pada orangtuanya untuk mengikuti ajang olimpiade matematika di Singapore tahun depan.
“Pokoknya aku mau ikut olimpiade itu. Ini kesempatan emas buat cherry, ia kan bu, yah?“
“Ia kamu betul cherry, ibu setuju. Tapi ada sesuatu yang ingin kami bicarakan sama kamu sayang..”
“Ada apa bu?”
“Hmmhh.. biar ayah saja yang cerita, ibu bikin minuman dulu buat kamu ya”
“Ayah, ada apa sii, cherry penasaran?”
“Ayah pikir ini berita bagus buat kita semua, ayah di promosikan perusahaan untuk menjadi head manager..”
“Waww.. itu keren banget yah. Selamat ya ayah”
“Ia terima kasih cherry, tapi itu di salah satu cabang perusahaan di Niasin”
“Niasin?? Apa itu yah..”
“Kota Niasin, masa kamu gak tahu, kamu kan anak sekolah”
“Tapi cherry baru pertama kali dengar kota namanya Niasin. Kalau Pulau Nias cherry tahu tapi kalau Niasin.. dimana itu yah? Deket pulau Nias?”
“Itu masih di Pulau Jawa cherry, deket Pulau Seribu. Dan karena itu, kita akan pindah kesana”
Sebenarnya berat bagi cherry mencerna kata-kata ayahnya. Keluarganya akan pindah ke sebuah kota yang baru saja ia tahu namanya dari ayahnya. Jika harus memilih, ia ingin sekali tinggal di Bandung tempat tinggalnya sekarang. Ia sudah terlanjur menyukai sekolah barunya SMU Pelita Harapan. Ia menyukai lingkungan perumahannya yang sejuk. Tapi ia tidak memiliki pilihan, ia tidak mungkin tinggal sendirian disini sedangkan keluarganya berada di sebuah Pulau antah berantah.
“Selamat pagi cherry, kamu sudah dengar berita tentang rafael?” sandra, sahabat baikku menyapaku yang baru saja datang ke kelas.
“Ehmm.. belum, ada apa? Adakah sesuatu yang penting yang harus aku tahu?”
“Yaa mungkin ini sedikit penting, rafael jadi juara kedua semester ini” sandra mengatakan dengan sedikit berbisik.
“Waww kamu dapat info dari mana? Dan siapa yang pertama..” aku bertanya dengan antusias
“Sandra gitu, selalu dapat info yang pertama. Aku lupa siapa yang pertama, kalau gak salah namanya Cherryl Putrianty Hermawan”
Setelah itu kami tertawa terbahak-bahak. Sandra ialah putri bungsu dari wakil kepala sekolah SMU PH. Ia tentu saja tahu informasi terbaru tentang sekolahnya. Semester kemarin aku mendapat juara 2 sebagai siswa dengan nilai tertinggi. Tempat pertama diduduki Rafael, ia mendapat predikat juara umum. Semester ini ternyata aku yang mendapat tempat pertama. Sungguh senang hatiku, aku sangat bangga dengan diriku sendiri. Rafael memang bukan lawan yang sembarangan, tapi akhirnya aku bisa mengalahkannya. Terkadang aku merasa menjadi wanita yang sempurna. Prestasiku yang nyaris sempurna, kepopuleranku di sekolah ini yang mungkin bila diadakan rating di sekolah aku menduduki tempat pertama. Tidak sedikit orang yang memuji penampilanku yang selalu fashionable namun tidak berlebihan dan yang lainnya. Oke, mungkin aku terlalu narsis dengan kondisiku sekarang tapi semuanya adalah fakta. Teman-temanku banyak yang menjodohkan aku dengan rafael, ia seorang atlit renang andalan sekolah. Dulu ia masuk SMU PH karena prestasinya dalam akademik dan olahraga, ia satu-satunya siswa yang diterima tanpa test. Bukannya aku tidak menyukai rafael, wanita manapun akan terpesona melihat seorang lelaki yang bisa kubilang perpaduan antara ashton kutcher dan rafael nadal. Rambutnya yang hitam dengan kelopak mata elips dan hidung mancungnya. Mungkin bisa dibayangkan tubuh atletis seorang atlit renang. Nyaris sempurna untuk seukuran anak SMU. Keegoisanku lebih dominan daripada keterpesonaanku padanya. Aku tidak ingin mengorbankan prestasiku hanya untuk cinta monyet. Apalagi rafael adalah sainganku.
“Cherry, besok lusa kamu jadi ikutan speech contest kan? Wahh bakal seru deh, ada pasangan yang akan berduel” Sofia tiba-tiba menanyaiku di kantin.
“Yaa tentu saja aku ikut, kamu sudah punya calon yang akan dijagokan?”
“Aku tentu saja pilih kamu Cherry, tapi karena rafael adalah gebetanku kamu jadi yang kedua” Ujar sofia dengan muka polosnya
Minggu ini memang minggu untuk Porak (Perlombaan antar kelas), karena minggu yang lalu mereka baru saja menyelesaikan ujian akhir semesternya. Porak ini diadakan selama 2 minggu, biasanya yang dijadikan perlombaan ialah sains, bahasa dan olahraga. Cherry mengikuti speech contest, temanya kali ini tentang Junk Food. Besok lusa pertandingan itu akan dimulai, tapi siswa-siswi sudah tahu siapa yang akan masuk final. Sepertinya perlombaan ini akan menjadi yang terakhir bagi cherry, karena tahun ajaran depan ia akan pindah mengikuti keluarganya. Maka dari itu ia ingin sekali memberikan terbaik untuk teman-temannya dan sekolahnya.
“Jangan harap kamu bisa menang kali ini cherry, aku akan buktiin sama kamu. Kalau aku bisa ngalahin kamu”
“Yaa coba saja Eva, kamu pasti kalah karena kamu bukan lawannya Cherry..”
“Kamu gak usah ikut campur sandra cerewet, aku gak nanya sama kamu”
“Tapi sandra benar, kamu bukan lawan aku eva. Aku terlalu kuat untuk kamu”
“Oia.. sombong banget kamu cherry, kalau sudah kalah baru tahu rasa”
“Oke kita buktiin aja nanti, aku akan buktiin kalau kamu gak selevel sama aku. Karena kamu cuma mengandalkan kekayaan kamu untuk menyuap panitia”
Aku dan sandra meninggalkan eva yang marah-marah. Ia sepertinya malu karena ada beberapa temannya yang melirik aneh pada dirinya. Eva adalah salah satu siswa yang paling tidak menyukai Cherry. Seperti air dan minyak yang tidak pernah bersatu, mereka selalu bertentangan satu sama lain. Tapi cherry tidak peduli. Masih banyak orang yang menyukainya, dan dibenci oleh satu orang itu bukanlah suatu hal besar yang harus diperhatikan.
Speech contest itu akan tiba besok, malam ini cherry belajar sampai malam. Ia membuka buku bahasa inggrisnya, ia mempelajari lagi grammar dan pronounciation untuk setiap suku kata dalam pidatonya. Junk food, akan menjadi tema yang menarik buat semua orang besok. Yaa bagaimana mungkin dalam setangkup burger yang berisi sayuran, daging, roti orang-orang bisa menyebutnya makanan sampah. Cherry akan membahasnya besok. Saat ia melihat jam dinding di kamarnya, waktu menunjukan pukul 23.15. Cherry merasa sangat lelah, ia segera membereskan pekerjaannya untuk besok dan pergi tidur untuk merehatkan seluruh badan dan pikirannya. Sebelum tidur, sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil ia menyetel musik Beethoven di Ipodnya. Segera setelah itu ia tertidur pulas.
Suara riuh terdengar jelas saat rafael memulai pidatonya, ia menceritakan tentang pengalamannya saat mengikuti PON di Kalimantan. Ia menyabet medali emas untuk itu. Seluruh juri terlihat terkagum-kagum dengan semua ucapan yang keluar dari mulur rafael. Saat itu cherry agak gugup, ia tak bisa membayangkan apakah dirinya bisa seperti rafael di depan podium nanti. Ia menarik nafas panjang dan mendengarkan musik beethoven untuk menenangkan hatinya.
“Aku akui kamu beruntung kali ini. Tapi bukan berarti aku menyerah. Aku bisa buktiin kalau aku jauh lebih hebat dari kamu”
“Yaa kita akan melihatnya nanti, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku gak beruntung untuk contest ini. Semua orang tahu kalau aku tak memerlukan keberuntungan untuk menang.”
“Dan semua orang juga tahu kalau aku punya prestasi lebih banyak dari kamu, dari hanya sekedar menang lomba renang dan juara 1. “
“Asal kamu tahu ya, kata-kata kamu itu menunjukan siapa sebenarnya kamu. Orang sombong itu gak akan pernah bisa menerima kekalahannya”
“Aku gak sombong, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi..”
Siang itu matahari seperti menyengatku. Aku merasakan hawa panas masuk dalam mulutku, ke kerongkonganku, dan sepertinya lambungku tidak mencerna hawa panas itu. Dalam sekejap aku merasa harus berlindung dari cahaya matahari. Aku duduk di bawah pohon beringin. Aku memikirkan kejadian hari ini. Aku bertengkar lagi dengan rafael, kali ini masalahnya adalah kemenangan rafael. Aku memang tidak menyangkal kalau pidatonya bagus, tapi pidatoku tentu lebih bagus dan tentunya lebih bermanfaat. Rafael benar, aku tidak bisa menerima kekalahanku. Aku sudah belajar dengan keras tapi aku hanya berada di posisi runner up.
“Cherry, kamu hebat bisa jadi juara lagi. Aku bangga punya sahabat seperti kamu” tiba-tiba sandra menghampiriku
“Tapi kamu lebih senang kan karena gebetan kamu yang jadi posisi pertama”
“Kok kamu gitu sih, juara pertama, kedua, ketiga tetap saja semuanya juara dan hebat. Lagipula meskipun kamu dapat juara 2, kamu bisa meraih juara pertama di lomba musik, lomba menulis artikel, badminton, senam lantai dan..”
“Cukup sandra, aku mau pulang. Matahari siang ini begitu menusuk kulitku”
Rumahnya terasa seperti taman bunga yang indah melebihi taman bunga di manapun. Cherry memasuki kamarnya yang sejuk dan segera membaringkan tubuhnya. Saat ia mulai memejamkan matanya terdengar suara ribut dari lantai atas. Seperti beberapa orang yang sedang membereskan sesuatu. Dengan enggan cherry keluar dari kamarnya dan melihat apa yang terjadi.
“Ayah, ibu sedang apa kenapa berisik sekali”
“Maaf sayang tapi kita kan mau pindah besok lusa dan barang-barang ini masih banyak yang belum dikemas. Kamu sudah mengemas semua barang-barang kamu bukan?”
Aku teringat kalau 2 hari lagi aku akan pindah dari rumah ini. Entah untuk berapa lama. Dengan segera aku kembali ke kamarku, dan mulai megemasi sedikit demi sedikit barang-barangku. Sepertinya aku akan merindukan tempat ini. Kamarku dengan cat hijau daunnya, jendela yang menghadap taman bunga di belakang rumah. Huufft.. aku akan merindukan semuanya. Dan besok adalah hari terakhirku sekolah, aku akan pamit pada semuanya. Pada sandra, teman-teman di kelasku, teman-teman di kelompok musikku, dan kelompokku di KIR. Yang pasti aku akan sedih saat mengucapkan selamat tinggal pada Bu Maria, wali kelasku dan yang selalu membantuku dalam semua mata pelajaranku. Begitu juga pada Pa Arya yang selalu sabar mengajariku bagaimana caranya bermain piano seperti beethoven. Dan tentunya rafael, aku akan mengucapkan selamat tinggal padanya. Sebenarnya aku tidak mau melakukan semua ini tapi semua ini harus kujalani.
“Semoga kalian mengenang semua yang baik tentangku, aku akan merindukan kalian semua nanti. Terima kasih aku akan pergi sekarang” ujarku dengan berat hati
Ayah menjemputku pulang, ini hari terakhirku di SMU PH. Sandra terlihat menangis dan yang lainnya pun terlihat sedih. Tapi aku tidak melihat rafael, entah ada dimana dia. yang pasti aku sudah mengucapkan selamat tinggal padanya. Eva terlihat agak senang, ia tersenyum-senyum sendiri melihat yang lain. Aku meninggalkan halaman sekolah dengan berat hati. Sesampainya dirumah, aku melihat kekosongan. Semua barang-barang sudah dikirimkan ke rumah kami yang baru. Tinggal Ayah, ibu, kakak dan aku yang sore ini akan berangkat ke bandara. Ayah sengaja mempercepat kepergiannya, agar ia bisa melihat kondisi perusahaan barunya. Tidak terasa, aku sudah berada di pesawat Boeing 737. Aku memilih untuk tidur.
Aku baru saja tiba di rumah baruku, rumah panggung bercat putih dengan tiang-tiang di pinggirnya. Rumah ini seperti rumah bergaya eropa dulu. Di depan rumah terdapat taman bunga yang luas, berbagai macam bunga tumbuh disini diantaranya gardenia, seruni, adenium, mawar putih dan banyak lagi. Kalau boleh kubilang rumah ini seperti villa. Ibu mengajakku berkeliling rumah, ternyata dapur dan ruang makan bersatu di ruangan yang cukup besar. Ruang tamu yang besar dengan banyak lukisan jaman dulu membuatku seperti berada di museum seni. Aku menempati kamarku di lantai 2. Rumah ini lebih besar dari rumahku yang dulu. Aku berharap bisa betah tinggal disini. Samar-samar aku mendengar ibu memanggilku, aku segera menghampirinya di ruang keluarga. Aneh aku belum melihat ruangan ini, ruangan tengah atau yang kusebut ruang keluarga ini terdapat cerobong asap atau entahlah apa namanya. Ini seperti tempat menghangatkan diri di musim dingin. Benar-benar seperti berada di Eropa.
bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar